Soal Aturan Pengelolaan Pulau Oleh Asing, Begini Kata Luhut

Placeholder
Nusantara

Perahu nelayan melintas di dekat cold storage yang tak lagi digunakan di desa Tilei Pantai, Morotai Selatan Barat, Pulau Morotai, Maluku Utara, 9 November 2015. Pulau Morotai telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus yang akan mendukung sektor perikanan.

Diharapkan lebih banyak investor yang datang dan dapat mengangkat kehidupan warga yang mayoritas nelayan menjadi lebih layak. Menjadi bintang di tepian Pasifik. ANTARA/Fanny Octavianus

  • Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengatakan pulau-pulau yang dikelola oleh pihak asing akan diatur menjadi suatu kawasan.

"Saya ambil contoh Morotai. Di Morotai itu ada tujuh lapangan terbang. Kalau misalnya merunut nostalgianya teman-teman dari Jepang mereka ingin membesarkan, mengaktifkan satu lapangan terbang menjadi satu kawasan, dia mau kasih nama apa aja, ya silakan aja asal nanti lapor ke kami," ujar Luhut di kantornya, Jakarta, Rabu, 11 Januari 2017.

Meski dikelola asing, ujar Luhut, namun semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam pengelolaan pulau tetap dari pemerintahan Indonesia. "Tidak ada kepemilikan yang beralih. Karena saya dengar yang sudah viral, yang belok-belok itu, kepemilikan (diambil) oleh asing," kata Luhut.

Menurut Luhut, pengelolaan pulau tersebut sesuai mekanisme bisnis. Ketika ditanya dengan dikelolanya pulau itu oleh asing apakah menjamin menambah kedatangan wisatawan, Luhut optimistis. "Kalau diinvestasikan pasti mau datang."

Luhut menuturkan pihak Jepang ingin membuat elderly resort yang digunakan untuk orang-orang tua. Jepang merasa perlu ke Indonesia, ucap Luhut, karena mergingnya bagus. "Jarak dari Tokyo ke Morotai itu mungkin hanya 4,5 jam total," katanya.

Luhut berjanji memberikan prioritas untuk Jepang yang ingin mengelola pulau itu. "Kita lihat nanti. Presiden mau tawarkan, kalau memang Jepang tawarannya bagus ya kita ke Jepang. Tapi kita kasih ke Presiden prioritas, begitulah kira-kira," ucap dia.

Luhut berujar proyek yang di kelola Jepang investasinya cukup besar dibandingkan investasi dari Tiongkok. "Karena untuk listrik saja Jepang itu investasinya paling besar, bukan Cina loh. Nilainya kira-kira US$ 12 miliar," ujar Luhut.

"Jadi jangan selalu bilang Tiongkok kita kasih. Enggak. Investor terbesar untuk Indonesia itu masih tetap Singapora, kedua Jepang. Tiongkok itu nomor 5," tutur Luhut.



Warta Sejenis

Maaf tidak bisa mengambil data, ada masalah dengan server kami!